Tak Hidup namanya, kalau Tak Bermasalah

ditulis ulang sesuai aslinya dari millis syiar-islam

Hidup ini sering bermasalah.
 
Rasanya, baru lepas dari satu masalah, datang lagi masalah lain.Belum selesai bencana akibat kebanjiran, datang lagi galodo, eh muncul lagi yang lain lagi
Terkadang aku berfikir, masalah, musibah itu sebenarnya diakibatkan diri kita sendirikah, atau memang berupa ujian dari Allah Ta’ala agar kita semakin kuat.
 
Mungkin tergantung sikonnya kali yah….
 
Ada musibah, atau masalah itu disebabkan oleh dari dalam diri manusia itu sendiri. Bukankah Allah sudah berfirman :”Apa-apa saja yang menimpa/mengunjungi diri seseorang dari sebuah kebaikan, maka kebaikan itu berasal dari Allah Ta’ala, sedangkan apa-apa saja musibah yang menimpa diri seseorang akan kejadian musibah yang jelek/buruk, maka itu disebabkan oleh diri mereka sendiri.”.
 
Sementara ada sebuah hadits, menyatakan, apabila Allah Ta’ala menyayangi hambaNya, maka hamba tersebut akan diujinya”.
 
Para Nabi, sahabat juga tak kurang dari cobaan dan ujian.Tapi, coba kita renungkan cobaan para nabi dan sahabat semacam apa, hampir rata-rata  karena ujian atas ketabahan, bukan karena kesalahan mereka.
 
Jadi, hakikatnya musibah yang terjadi pada diri kita, adalakalanya karena memang kelalaian kita, adakalanya karena memang Allah ingin menguji tingkat kesabaran dan keimanan kita.
 
Makanya juga, tak salah dalam sebuah hadits, dikatakan, Allah berfirman: “Aku menurut sangkaan hambaKu terhadapKu”.
 
Kita berprasangka baik saja pada Allah Ta’ala atas segala musibah yang melanda kita, namun tetap kita harus intropeksi diri, karena bisa jadi musibah yang melanda kita, disebabkan oleh perbuatan diri kita sendiri. Bukankah Allah ta’ala berfirman :”Jikalau saja penduduk suatu kampung beriman, sungguh kami akan membuka pintu keberkahan dari atas langit dan dalam bumi”.dan firmanNya lagi :”Jika kamu bersyukur, sungguh (ni’mat) Ku akan kutambahi atas kamu, tapi jika kamu kafir(tidak bersyukur), sesungguhnya azabku sangatlah pedih”
 
Ada manusia yang tak mau memandang kebelakang. Hal ini suatu prinsip yang salah, sebab bertentangan dengan perintah Allah Ta’ala sendiri :”Hendaklah seseorang melihat apa yang telah terjadi padanya, untuk kebaikan masa depannya’(Masa belakang dipandang kembali untuk dijadikan i’tibar, bukan dibuang begitu saja). Saya agak aneh sering mendengar ucapan seseorang dengan mengatakan :”Saya ngak pernah melihat kebelakang”.Kesalahan-kesalahan masa lalu, memang harus di ingat agar tak pernah terulang kembali, agar tidak jatuh pada jurang atau lobang yang sama.kesalahan yang paling fatal adalah berbuat aniaya pada manusia lainnya, apalagi aniaya pada allah Ta’ala.
 
Mari sama-sama kita renungkan perkataan Imam Ibnu Al qayyim Al Jauziyah dalam bukunya “Memetik Manfaat AlQuran”(hal 77):” Ketika manusia berpaling dari hukum yang ditetapkan dalam Kitabullah dan As Sunnah, serta tidak hanya berhukum kepadanya, dan mereka beritikad tidak cukup untuk berpedoman kepadanya, lalu mereka berpindah kepada beberapa pendapat, qiyas, istihsan dan beberapa perkataan syaikh, maka fitrah mereka akan merusak, lalu hatinya menjadi gelap, pemahamannya kotor, dan akal mereka juga turut hancur. Beberapa perkara ini akan mengalahkan mereka, hingga anak kecil akan terdidik demikian. Lalu sampai ia berusia lanjut pun demikian keadaannya. Dan mereka melihat hal tersebut bukan suatu tindakan kemungkaran.
 
Akhirnya datang kepada mereka suatu pemerintahan yang menjadikan Bid’ah sebagai Sunnah, nafsu berkedudukan sebagai akal, hawa nafsu sebagai petunjuknya, kesesatan menduduki fungsi petunjuk, kemungkaran menduduki tempat kebaikan, kebodohan menduduki tempat ilmu, riya menduduki keikhlasan, kebatilan menduduki posisi kebenaran, dan kebohongan menduduki kebenaran atau kejujuran, penganiayaan menempati keadilan.
 
Apabila pemerintahan telah berkedudukan sedemikian rupa, dan keadaan telah dikuasai penuh, bendera-benderanya telah dikibarkan, tentaranya telah dipersiapkan, maka perut bumi(kematian), demi Allah, lebih baik daripada diatasnya, dan puncak gunung lebih baik daripada lembahnya. Serta bercampur dengan binatang buas lebih baik ketimbang berkumpul dengan manusia.
 
Bumi telah terguncang, dan langit gelap gulita. Kerusakan telah melanda bumi dan lautan, dikarenakan banyak penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang yang durhaka. Berkah telah lenyap dari muka bumi, dan kebaikan menjadi sedikit, beberapa binatang buas telah kurus, lalu kehidupan telah kotor karena kefasikan orang-orang yang dzalim. Sinar siang dan kegelapan malam telah menangis disebabkan beberapa perbuatan jahat dan kejam.
 
Amal perbuatan yang tanpa disertai dengan keikhlasan dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, maka sama saja seperti musafir yang pergi kesuatu tempat dan mengisi tasnya dengan pasir yang amat berat, dimana ia tidak bisa memanfaatkannya sama sekali”.
 
Hadapilah masalah itu dengan kepala dingin dan hati tenang. Bila saat emosi belum sanggup menenangkan hati, mari kita ambil air wudhuk, duduklah, atau berbaring, bacalah AlQuran, atau bacalah buku2 agama penenang hati. InsyaAllah amarah itu akan reda. Tetaplah berbaik sangka pada Allah ta’ala terhadap segala cobaan yang menimpa, namun tetap jugalah intropeksi diri, mungkin saja ada kesalahan yang kita perbuat, ada kita menganiaya/mendzalimi orang lain, atau ada harta orang lain yang kita makan secara aniaya, sebab rahmat Allah lebih besar ketimbang azabnya. Allah Tak mungkin mendzalimi hambaNya, kecuali hamba tersebutlah yang dzalim pada dirinya sendiri.
 
 Jangan pernah membuat masalah dengan  menghina, mengejek,  seseorang, karena  Allah berfirman, orang yang suka menghina/mengejek orang lain, dia adalah seorang yang fasiq, bahkan orang fasik yang paling jelek, setelah mereka beriman. Barang siapa yang tidak bartaubat, maka orang yang suka menghina orang lain itu, adalah orang-orang yang berbuat dzalim.Ingat, do’a orang yang kita aniaya/dzalimi, tidak ada batas antara dirinya dan Allah Ta’ala.
 
Dan mari kita usahakan darah daging, makanan yang masuk kedalam perut kita adalah berasal dari yang halal. Karena mana mungkin do’a kita akan terkabulkan, kalau darah daging kita berasal dari hasil jerih payah yang haram. Haram itu bermacam-macam, makan dari hasil riba, makan dari hasil penipuan, korupsi, kecurangan, didapat dari jalan yang salah, jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan AlQuran dan assunnah, dan lain sebagainya. Memang sulit yah hidup ini, dan selalu saja ada masalahnya. Namun, itulah kehidupan, tidak hidup namanya kalau tak bermasalah. Mayat yang sudah mati yang tak bermasalah lagi didunia ini, kecuali dalam alamnya yang lain kali, alam kubur.
 
Wassalamu’alaikum. Rahima, Bukittinggi 9 April 2009

Pelajaran dari Krisis Keuangan Global

Di tengah krisis global seperti ini, banyak orang semakin yakin bahwa
kita perlu belajar berwirausaha atau punya usaha sendiri atau
mengelola usaha sendiri. Betapa tidak, siapa sih yang tak kenal
perusahaan-perusaha an top dunia seperti Lehman Brothers, AIG, Goldman
Sach, dan sederet nama lainnya. Toh mereka bisa ambruk juga. Tidak
bisa menjamin bahwa semua karyawan yang ada di dalamnya akan kerja
aman sampai mati. Tidak. Kalau yang belajar dan sering baca bisnis
keuangan tentu tahu reputasi perusahaan-perusaha an top itu, mereka
selalu jadi tempat belajar dan benchmark para pelaku bisnis keuangan
di hampir semua benua. Toh itu tak bisa menjadi gantungan hidup yang
aman bagi karyawannya. Ini pelajaran bagi siapapun bahwa tak ada
salahnya kita2 punya usaha sendiri, meski awalnya hanya dijalankan
dengan sambilan. INI PENTING UNTUK BERJAGA-JAGA. Kita tak pernah tahu
apa yang terjadi dengan perusahaan kita kedepan. Apakah perusahaan
kita sudah lebih hebat dari Lehman Brothers dan Golmand Sach?

Moga-moga sih aman-aman saja. Kalau kita punya kemampaun menjalankan
usaha sendiri dan tahu cara-caranya, harapannya, kalau ada
kejadian-kejadian kepentok seperti itu kita bisa punya kemampuan survival.

Sekedar bagi2 informasi bagi yang ingin berwirausaha, yang semoga
berguna, ADA BEBERAPA ALTERNATIF CARA AMAN menjadi entrepreneur
sesuai yang saya tahu dari relasi-relasi saya pengusaha yang sudah
terbukti sukses. Kalau kita ingin mandiri berwirausaha alias menjadi
entrepreneur, kita tidak harus langsung cabut dari profesi lama kita.
Tidak perlu grusa-grusu. Kita harus dengan dingin membedakan antara
berani dan nekad. Apalagi kalau yang sudah punya tanggungan keluarga,
kita juga harus menimbang ada sekian jiwa yang ikut dalam gerbong kita
sehingga kalau kita salah kemudi mereka juga bisa kejeblos.

Berikut ini beberapa informasi cara yang lebih aman untuk pindah ke
kuadran entrepreneur.

Pertama; kita bisa memulai berwirausaha dengan melakukan penyertaan
saham (setor modal) di bisnis teman kita sembari kita tetap kerja dulu
di perusahaan lama kita. Jadi kita setor modal ke kawan yang punya
bisnis bagus, dan nantinya kita mendapat bagi hasil dari keuntungan.
Dari sini kita juga sekalian mulai belajar bagaimana mengelola usaha.
Pelan-pelan kita mulai aktif terjun di dalamnya dan membantu dan kerja
bareng dengan si teman itu. Kalau skala usaha joinan dengan teman itu
bagus dan penghasilan dari bagi hasil sudah bisa menutup kebutuhan
hidup kita dan keluarga, barulah kita putuskan keluar. Jadi ketika
kita keluar dari perusahaan lama tidak kaget karena tetap ada penghasilan.

Kedua, jurus menginjak dua kapal. Artinya, kita masih sebagai karyawan
di sebuah perushaaan mapan, namun di waktu yang sama juga merintis
usaha alias menjalankan usaha milik sendiri. Cara ini dimungkinkan
bagi mereka-mereka yang punya cukup waktu luang sehingga bisa nyambi.
Sebenarnya cara ini sekarang lebih dimungkinkan karena adanya HP dan
telpon yang memudahkan koordinasi. Jadi, sementara kita di kantor,
kita bisa sembari mengendalikan bisnis sendiri dari jarak jauh. Hingga
skala tertentu nyambi ini sangat dimungkinkan, namun kalau bisnisnya
mulai membesar kita pasti harus cabut. Strategi menginjak dua kapal
ini merupakan pilihan aman dan realistik. Jadi sementara satu kaki
kita masih ada di kapal milik perusahaan lain, satu kaki kita
melakukan test market untuk membangun bisnis (kapal) sendiri. Cara ini
juga paling umum dijalankan oleh para perintis usaha.

Ketiga, kalau anda tidak mau joinan dengan orang lain dan tidak bisa
berdiri di dua kapal, kita bisa berdayakan pasangan kita
(istri/suami) . Jadi, sementara kita masih kerja di perusahaan lama,
pasangan kita (istri atau suami) yang mengurusi bisnis sendiri untuk
masa-masa perintisan. Artinya sekoci pendapatan keluarga masih ada
yang bisa diandalkan, baik buat beli beras atau susu anak-anak. Kalau
usaha sendiri ini sudah jalan, silahkan saja keluar dari kerja di
perusahaan orang lain itu.

Soal tip ketiga ini saya juga punya contoh kasus riel. Ada pengusaha
sukses kawan baik saya, Pak Budiyanto Darmasatono yang beliau
pengusaha kurir ekspress yang sudah kaeryawan 2.700 orang padahal
waktu awal-awal di jakarta selulus D3 UGM juga gelantungan naik bis
kota. Waktu beliau memulai usaha, dia tidak langsung keluar dari
pekerjaan lamanya sebagai supervisor di Dinners Club, namun istrinya
dulu yang menjalan usaha. Soal ide dan konsep-konsep bisnisnya tetap
Pak Budiyanto yang memotori dan istrinya yang melakukan eksekusi.
Kalau ada meeting2 yang penting, beliau juga cuti dari kantornya dan
ikut istri melakukan presentasi ke calon klien. Jadi dia tidak gegabah
langsung cabut dari kerjaan kantor lamanya. Nah, ketika usahanya sudah
berjalan baik dan pendapatannya sudah mulai bisa diandalkan, barulah
ia keluar secara baik-baik dari perusahaan lamanya, berpamitan dengan
sopan untuk usaha sendiri. Kini bisnis sendiri yg ia komandani sudah
punya 2.700 karyawan dengan kantor operasional sudah ada di semua
propinsi di Indonesia. Yang pasti, tip ketiga ini tentu saja berlaku
untuk yang ketika akan mulai mandiri berwirausaha sudah berkeluarga,
kalau yang masih single, tentu saja pasangan Anda bisa kakak atau Adik
anda. Ini juga cara sukses dan aman untuk masuk ke kuadran
entrepreneur namun tidak mengganggu keamanan sumber penghasilan keluarga.

Keempat, kalau Anda sudah ngebet sekali untuk menjadi entrepreneur dan
yakin bakal sukses serta merasa tak perlu pakai ban serep seperti itu,
setidaknya Anda tetap bisa melakukan pengamanan lain, yakni dana
pendidikan anak. Bagaimanapun kita capek-capek kan utamanya untuk
anak. Cara ini juga dilakukan salah satu pengusaha kawan saya, Pak
Harijanto, pengusaha sepatu produsen Nike dan Piero yang punya
karyawan 9.000 orang. Ketika beliau akan menjadi entrepreneur dengan
membeli saham perusahaan dimana beliau bekerja, beliau juga
mempertaruhkan masa depannya: bisa sangat sukses namun juga bisa
menjadi miskin kalau gagal. Nah, untuk mengamankan proses untuk
menjadi entrepreneur ini, beliau dan istri mufakat: diputuskan maju
menjadi entrepreneur dengan membeli perusahaaan dimana beliau bekerja
namun sebelumnya tabungan pendidikan untuk anak tidak boleh
diotak-atik. Tabungan anak harus tetap ada dan disendirikan. Jadi
katakanlah proses menjadi entrepreneur itu gagal, dana pendidikan
anak2 tetap aman.

Jadi itu beberapa kiat aman pindah ke kuadran entrepreneur. Semoga
dengan cara itu proses transisi menjadi pengusaha sukses menjadi
melegakan semua pihak, tidak ada penyesalan-penyesal an. Silahkan
kawan2 yang ingin memulai usaha memilih jalan yang terbaik.
Kawan-kawan semua bisa meyimak lebih dalam tentang kiat-kiat menjadi
entrepreneur ini (termasuk kisah Pak Budianto Darmastono dan Pak
Harijanto) di buku terbitan Gramedia, “10 PENGUSAHA YANG SUKSES
MEMBANGUN BISNIS DARI 0″ disusun Sudarmadi yang biasanya dijual di
toko-toko buku besar termasuk Gramedia dan Gunung Agung. Di buku itu
kawan2 bisa belajar dari 10 pengusaha sukses yang benar2 berangkat
dari bawah.

Semoga informasi ini bermanfaat dan saya ikut berdoa semoga sukses
buat kawan2 semua.

Wassalam
<gradient_indonesia@yahoo.com>Tambahkan Pengirim ke Kontak

Ditulis dalam Bisnis. Leave a Comment »